Hanya aku yang tahu isi hatiku…

It’s Earth Hour, Turn Off Your Light Please..

“Kok dimatiin sih?” Tiba-tiba pintu depan dibuka, dan Nia langsung protes keras karna Lia mematikan lampu di ruang tamu, ruang TV, dapur dan teras kosan.
“Kan Eurth Hour” Jawab Lia dengan halus.
“kenapa emang?” masih dengan nada ketus.
“hah? maksudnya?” Lia semakin bingung dengan pertanyaannya.
“kenapa dimatiin semua gini?”
“Loh, kan tadi udah dibilang, Earth Hour. kita matiin lampu sejam doank kok”
“terus buat apa?” tanda protes belum juga hilang dari nada bicaranya.

Lia takjub dengan pertanyaan Nia sambil garuk-garuk kepala dan berfikir ‘ni orang ngerti ga sih Earth hour? tau ga ya klo orang diseluruh dunia bareng-bareng matiin lampu selama sejam untuk menyelamatkan bumi yang aku rasa tidak lama lagi akan musnah. Eh, dia malah bilang kenapa? untuk apa? plis deh…’

Nia menutup pintu dengan nada kesal karna Lia tidak menjawab pertanyaannya. ‘yaiyalah…gitu aja kok harus dijawab’ fikir Lia.

Lia menjatuhkan tubuhnya di kasur sambil menarik nafas panjang. Aku tahu ada yang tidak beres. Posisiku yang tidur disebelahnya cukup bisa menangkap maksud dari nafas barusan.
“Kenapa Li?”
“Tau tuh, heran. Orang suruh matiin lampu malah marah-marah. earth Hour aja ga ngerti. ga pernah nonton berita apa ya? Peduli kek sedikit. Masih untung aku ga matiin semua lampu di kosan ini” Lia mengeluarkan unek-uneknya hampur tanpa bernafas. Dalam kegelapan aku bisa membayangkan mimik Lia yang sedang marah saat ini. pasti lucu..
“Hehe…orang kan beda-beda Li. Biarin aja klo dia ga mau mah atuh”
“tapi kan cuma sejam” protes Lia.
“Li, ga setiap orang sadar akan hal itu kan? ga setiap orang juga mengerti. kebanyakan orang menganggap hal itu sepele. kalaupun kita paksain, kamu yang bakal kena semprot” Aku mencoba menenangkan Lia.
“Aku tau, tapi harusnya dia sadar dan ngerti dong. Bukannya tingkat pendidikan menentukan pola fikir seseorang? Dia kan sarjana”
“Yaelah, masa kayak gini doank harus dijawab? Emang sih kesadaran itu muncul karena adanya pengetahuan, tapi pada prakteknya kesadaran tuh ga tergantung pada tingkat pendidikan,tapi bergantung pada hati. Klo secara ilmu pengetahuan dia ngerti, tapi hatinya tidak mau menerima, tetep aja ga bakal dilakuin kan?”
“Iya sih, tapi please dong, cuma sejam ini.” dari nadanya yang melemah, aku tahu Lia sudah tidak terlalu kesal.
“Biarin aja sih klo dia ga mau. yang penting kita peduli. that’s it..! Lagian klo kamu paksa2 dia bakal jawab ‘Alah, masih banyak kok orang yang ga matiin lampu. klo cuma satu doank yg ga matiin lampu, ga ngaruh kan?’ lagian kamu sih, udah tau dia lagi pacaran di teras, eh lampunya malah dimatiin.hehehe…” aku memang senang mempermainkan Lia. Dia seperti anak kecil yang emosinya cepat naik, cepat juga turun…hihihi…
“haha…iya ya? eh, harusnya kan dia berterimakasih sama aku, pacaran kan lebih enak gelap-gelapan..hehe” Jawab Lia cepat.
“Haha…iya ya? Astagfirullah…”

Itulah Lia, selalu punya jawaban atas setiap pertanyaan, walaupun kadang ngaco dan seenaknya. Hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s