Hanya aku yang tahu isi hatiku…

Ya Allah…tolong jangan ambil adikku

Saat itu jam di dinding rumahku menunjukkan angka 10.00 dan adikku sedang mewarnai buku gambarnya di ruang tamu.

“teh, aku mau minum biasa” begitu adikku biasa menyebut air mineral. Lalu kuambilkan segelasa air dan kuberikan padanya. Air itu tidak diminumnya, malah dia berkata, “aku kedinginan”

“Dede kedinginan? Sini aku gendong” kataku sambil menggendong adikku agar dia merasa hangat dalam pelukanku. Aku menganggapnya biasa saja karna saat itu dia memang sedang demam tapi tidak terlalu tinggi karna sudah minum obat.

“Dede sama mamah dulu ya, aku mau masukin motor” ya, seperti kebiasaanku pada malam-malam sebelumnya kewajibanku adalah memasukkan motor kedalam rumah.

Mamah membawa adikku kedalam kamar.

Setelah memasukkan motor, aku menuju lantai 2 untuk menonton TV. Belum ada 1 menit aku di atas, ibuku berteriak “teteh…teteh…c de fira” itu panggilan kami pada adikku.

Aku berlari turun dan mendapatkan mamah sudah berteriak-teriak dan menangis sambil mengendong adikku.

Begitu kulihat adikku, tubuhku merinding. Tubuh adikku kejang-kejang, matanya terbelalak melihat keatas. Nafasnya sungguh lemah dan lambat. Jari tangan mamah terlihat kebiruan karna digigit olehnya.

Saat itu fikiran negatif tak bisa kutepis dari benakku. Ya Allah, tolong jangan ambil adikku. Hanya itu doa yang terlintas.

“kenapa mah?”

“telfon papap!!! Cepeeetttt!!! Kata ibuku sambil berteriak, terlihat panik sekali.

Saat itu ayahku memang sedang keluar menemui kerabat.

“Ipa, keluarin motor” aku menyuruh adikku yg lain mengeluarkan motor. Hanya untuk berjaga-jaga jika ayahku tidak bisa pulang dengan cepat.

Kutekan nomor HP ayahku, namun sulit untuk dihubungi. Aku tak tega melihat mamah yg panik dan terlihat menahan sakit menahan gigi adikku agar mulutnya tidak menutup.

Aku fikir, ‘Aku tak bisa ikut-ikutan panik saat ini’. Lalu kuserahkan tefon pada Ipa, dan aku ambil sendok untuk menggantikan jari ibuku menahan gigitan adikku. Sangat kuat dia menggigit sendok hingga bisa kudengar suara gemerutuk kecil. Dia mengerang. Tubuhnya masih tegang.

Kupegang kepala adikku sambil tetap memohon,”Ya Allah…tolong jangan ambil adikku”

Semua ayat al-Quran yg aku hafal kulantunkan hingga tanpa sadar air mataku menetes.

Ah…aku benar-benar tak sanggup melihat ini semua. Aku tak ingin kejadian 2 tahun lalu terulang kembali. Saat sang maut menjemput adikku sesaat setelah burung kematian itu mematuk-matuk dijendela kamar adikku di Rumah Sakit.

“Mah, kita bawa ke UGD puskesmas dulu aja” saat itu aku tak mungkin membawa adikku ke RS.

Kubawa mamah dan de fira ke Puskesmas, air mataku tak bisa kubendung lagi. Sepanjang jalan aku menangis sambil bertasbih, beristigfar, bertahmid, apapun dzikir yg aku ingat saat itu. Dalam hatiku masih tetap meminta, “Ya Allah…tolong jangan ambil adikku”

Ditengah jalan aku bertemu papap yang akhirnya langsung berbalik arah menuju Puskesmas.

Setibanya di UGD Puskesmas, perawat langsung menangani adikku. Sekitar 15 menit, kemudian mereka bilang,”Ibu maaf ini harus dibawa ke RS. Nanti kami kasih rujukan”

Tanpa kompromi kami langsung meluncur menuju RS PTPN. Setelah kami tiba di UGD RS PTPN, dokter langsung menangani adikku. Aku menunggu diluar sambil gemetar. Yah…aku begitu takutnya hingga tak dapat menguasai diriku sendiri. Sambil menunggu, aku sms teman-teman yang ada di “buku contact” HP-ku. Kira-kira begini isinya, ‘tmn2,seni mnta doanya…ade seni msk UGD. Seni mohon dgn sangat…doanya…makasih”

Akhirya dokter bilang,”bu, ini harus dirawat” Ah…aku tak tega jika tangan sekecil itu harus dimasuki jarum dan selan infus. Tapi apa boleh buat, demi kesembuhan adikku.

Saat itu teman-teman ayahku langsung datang ke RS, kira-kira 6 orang. Lalu kulihat jam di dinding RS menunjukkan pukul 11.35 malam. Ah…sungguh baik mereka. Terima kasih pak…

Setelah kurang lebih 10 menit di ruang rawat inap, adikku bangun. Dan taukah apa yang dia ucapkan? Setelah lebih dari sejam dia mengalami masa kritis, dengan wajah polosnya dia bertanya,”lulu mana?”

Haha…kami tertawa. Setidaknya kami tau bahwa dia sudah berhasil melewati masa kritis itu dengan menanyakan “Lulu” sang boneka kesayangan yang selalu dibawanya kemanapun, bahkan ke sekolahnya.

 

Hhh…terimasih teman-temanku. Tanpa doa kalian entah apa jadinya kami. Terima kasih Kang Inin, Andri, Wini, Dahlia dan semua teman-teman yg telah kuminta doanya…maaf sudah merepotkan karna smsku datang terlalu larut dan mengganggu istirahat kalian.

 

Terimakasih…LoVe U AlL…

 

Saat aku menulis ini, adikku dirawat di RS dan sedang demam tinggi. Kami semua sedang menunggu dokter anak, tapi sudah 3 kali ibuku meminta dokter itu tak kunjung datang. Ah…

3 responses

  1. Aku turut mendoakan agar adik mu lekas pulih!

    Salam Damai!

    November 16, 2009 at 6:42 am

  2. samat

    mengharukan i love you fool

    November 21, 2009 at 12:31 am

  3. Michell 유수정 Cainable

    xuxuxuxu TToTT

    November 24, 2009 at 2:55 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s