Hanya aku yang tahu isi hatiku…

Haruskah aku skeptis?

Suatu hari ibuku bertanya, mengapa aku selalu mengambil langkah seribu ketika ada lelaki mencoba mendekatiku. Aku tak tau harus menjawab apa, karna aku pun tak mengerti. Sikap skeptisku pada lelaki bukan tanpa alasan.

Bukan hanya sekali aku “didekati” oleh pria “berpacar” bahkan “bersuami”. entah kenapa…apakah tampangku seperti wanita-wanita “penggoda”? yang rela dijadikan “selingan” mereka hanya untuk dapat kesenangan?Atau karna mereka menganggap semua wanita sama? sama-sama bisa dirayu dan diiming-imingi “cinta” walau sebenarnya itu semu…?

Aku sangat terbuka jika ada lelaki yang mau menjadi sahabatku. tapi untuk lebih dekat? Ah…trauma itu belum juga hilang.

jika ada pernyataan, “kan ngga semua lelaki kayak gitu”. ya…memang tidak semua, tapi bagaimana aku bisa membedakannya?

Ah…pak, mas, maaf…saya wanita yang masih punya hati nurani. Bukan prinsip saya menghalalkan segala cara untuk mendapat kesenangan semata. Mungkin wanita-wanita yang pernah kalian temui bisa menerima hal itu, tapi maaf…tidak dengan saya…Tak pernahkah kalian berfikir anak, kakak, atau bahkan ibu kalian menjadi “alat kesenangan” lelaki hidung belang itu?

 

10 responses

  1. TRAUMA??!!

    November 13, 2009 at 11:57 am

  2. Keknya trauma!
    Saran: Giring mereka membuat pendapat ttg apa saja. Lalu diadu pendapat sesama mereka, tentu tanpa sepengetahuan satu sama lain. Pilih yg terbaik, udah, selesai filter pertama.

    Salam!

    November 14, 2009 at 12:03 am

  3. seni

    hehe…siapa yg harus digiring ini teh?
    ga ada yg harus digiring. hanya setitik “ide gila” yg ada di kepala hingga aku tak kuasa untuk menuangkannya kedalam sebuah tulisan. but, “ide yg bagus!!!”
    Mungkin ide brilian ini patut dicoba.

    thx sarannya…salam!!!

    November 14, 2009 at 8:06 am

  4. Ide gila?””
    Wah! Sejauh ada tanda kutipnya,
    Kenapa tak dicoba tuangkan saja.
    Kali ada yg bantu membumbuinya.

    Salam!

    November 14, 2009 at 5:47 pm

  5. seni

    iya…setuju!!! jadi bisa banyak belajar dan memperbaiki tulisan.

    trimakasih!!

    November 15, 2009 at 4:44 pm

  6. Betul, dgn begitu kita lebih merdeka di era kebebasan berpikir ini

    Salam!

    November 15, 2009 at 5:04 pm

  7. yuni

    mungkin harus lebih bersikap hati-hati Sis. jangan kedepankan perasaan, tetapi logika. selidiki lebih dahulu siapa dan seperti apa lelaki yang mendekati kita. mungkin tidak bisa detail dan tahu secara keseluruhan, seadanya saja yang dapat memberikan gambaran awal pada kita kalau dia lelaki “baik-baik”. lalu cobalah untuk sharing dan tukar pendapat dengannya.
    jangan trauma ya….🙂
    salam…

    November 17, 2009 at 7:04 am

  8. abah

    Descrates pernah berkata dengan pernyataan “the onibus dubithandum” yg artinya: segala sesuatu itu harus diragukan. pernyataan tersebut bukan berarti peraguan yg harus menghasilkan mosi tidak percaya (antrush) atau ketidak pastiaan, tetapi peraguan merupakan proses untuk mencapai keyakinan dg mempertanyakan kembali dari tahapan opini,lalu mengantarkan kepada kepercayaan dan akhirnya akan menjadi sebuah keyakinan yang tidak tergoyahkan. opini berkenaan dengan penjajakan kebenaran yg copilotnya ‘rembuk kebenaran’. kepercayaan berkenaan dg pembuktian kebenaran oleh logika dan pikiran saja yg copilotnya adalah akal. sedangkan keyakinan berkenaan dg kebenaraan yg sudah dirasakan kebenaraannya (‘aenulyaqin) yg copilotnya hati. untuk mengomentari seni pendapatnya tentang lelaki berarti seni akan terjebak dg konsep su’uzdhon (buruk sangka) dan sekeptis terhadap khusnuzdhon (baik sangka). aku juga seorang laki2 yg sudah beristri dan beranak satu tapi senang mengisi komentar rublik/blog ini dengan niat menyampaikan kebenaran dan memberi masukan yg saya sedikit tau tentang memahami kehidupan ini. saya tertarik dengan ekspresi seni dalam mencari kebenaran untuk menjadi pijakan. dalam konsep islam yg saya pahami bahwa orang bodoh itu bukan tidak tahu ataupun tidak bisa akan sesuatu tetapi dia tahu dan bisa tapi tidak melaksanakan/mengerjakannya. Sedangkan orang pintar ialah orang yang tahu dan bisa lalu ia menjalankan/melaksanakan/mengejakannya. dalam konsep keilmuan Rosul bersabda dalam hadistnya: ” Barang siapa mengerjakan yg ia ketahui maka Alloh memberikan ilmu yang ia tidak ketahui”. punten sanes abdi mapatahan tapi ngemutan, leres?

    January 26, 2010 at 9:41 am

  9. seni

    >yuni : siap!! tengkyu mba..
    >abah : leres…haturnuhun pisan tos diemutan.,

    February 24, 2010 at 4:33 pm

  10. oneng

    perubahan pasti ada..walopun sedikit demi sedikit…….

    October 13, 2010 at 9:24 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s