Hanya aku yang tahu isi hatiku…

Akhir sebuah cerita Cinta?

“Cing, mo minjem bahu gua?” sambil kutepuk-tepuk bahu kananku.

“heh…?buat apaan?” jawabnya dengan mimik penuh tanya.

“ya kali aja lu sedih, terus pengen nangis.hehehe…” kataku sambil cekikikan.

“hahaha…kurang ajar lu Sen. Ngga lah…gua kan cowo, masa nangis?”

“yee…emang kenapa kalo cowo nangis? namanya juga abis ditinggal pergi pacar. Wajar lah ya…”

“Sialan lu…ngga lah” katanya sambil berpaling.

Hh…Obrolan terakhirku dengannya saat dibandara.

Pandanganku tak beralih sejak meninggalkan bandara. Aku hanya memandangi jalanan, hutan-hutan bakau, dan gedung-gedung bertingkat yang terhalang oleh jendela bis DAMRI jurusan Airport-Bogor serta butiran air hujan yang sejak 15 menit lalu mengguyur kota Jakarta. 2 jam bukan waktu yang singkat kurasa, hanya duduk tanpa satu kata pun keluar dari mulutku padahal cocing ada disamping kananku.

Cocing alias cowo matching, begitulah teman-teman kuliah memanggilnya. Seorang pria medan dengan garis muka yang sangat tegas, prinsip yang kuat, dan wajah yang lumayan tampan kurasa. Dia teman sekelas saat aku mengambil jurusan Ilmu Kelautan di IPB. Bukan hanya karna itu aku dekat dengannya, tapi juga karna dia adalah pacar sahabatku Wina, sahabat yang paling kusayangi.

Sesekali kupalingkan wajahku ke arahnya, tak ada reaksi. Cocing tetap saja diam. Tatapannya lurus kedepan, sesekali keatas, tanpa perubahan ekspresi, tetap tenang. Ketenangan yang membuatku pilu. Ingin sekali kukatakan “cing, kalo mau cerita gua siap dengerin kok” agar aku bisa menghilangkan kesedihan dihatinya walau sedikit. Ah…tapi aku tak kuasa. Aku tak berani mengusik disaat dia sedang berusaha menata hatinya.

ðððððð

4 tahun mereka jalani hubungan yang begitu indah, sungguh episode percintaan yang cukup lama. Tak sedikit masalah yang mereka lalui bersama. Tawa dan canda selalu mereka hadirkan dalam setiap pertemuan, bahkan tangis pun mereka jadikan bumbu kemesraan. Tak pernah terjadi pertengkaran hebat apalagi kata ‘perpisahaan’, hingga suatu sore…

“Bang, aku mau pulang ke Lombok” kata Wina dengan wajah serius.

“pulang? Ya udah, pulang aja sana. Kalo perlu ga usah balik lagi” komentar cocing dengan nada agak marah.

“hehehe….becanda. Kalo kamu ngga balik lagi, aku gimana dong? Jadi duda deh. Bakal susah lagi nyari cewe nih.hehehe…kapan kamu pulang sayang?” cocing cepat-cepat meralat ucapannya melihat raut wajah wina yang dari tadi cemberut.

“tanggal 22 November”

“Hah?itu kan lusa. Kok kamu mendadak sih bilangnya? Emang udah beli tiket?” Tanya cocing bingung karna wina mendadak ingin pulang.

“Udah. Tadi beli tiket sama Seni di BS. Pesawatnya berangkat jam 8.10 dan kayaknya abang bener…” sejenak Wina menahan ucapannya.

“Hhh…aku ngga akan balik lagi bang. Ibu menyuruhku kerja disana” ungkap Wina sambil menghela nafas panjang.

ðððððð

Sengaja aku memisahkan diri dari mereka. Aku duduk sendiri berselang 1 kursi dari mereka. Aku hanya tak mau mencuri waktu mereka yang sedang sibuk dengan fikirannya masing-masing. Langit mendung menemani perjalanan kami ke bandara. Aura kesedihan begitu jelas kurasa sepanjang perjalanan. Hh…aku sedih bukan hanya karna akan kehilangan sahabatku, tapi juga karna tak sanggup melihat sepasang kekasih itu akan terpisah oleh jarak yang cukup jauh, Lombok-Bogor.

Wina mendekap erat tangan kekasihnya, dia sandarkan kepalanya ke bahu cocing. Tak ada percakapan, hening menyelimuti perjalanan sore itu.

“Ente janji ya bakal maen ke lombok. Pokoknya ane ajak jalan-jalan deh” ucap wina sambil memeluk dan mencium pipi kananku.

“Iya. Tenang aja, kalo gua udah banyak duit pasti maen kesono kok.hehe…” jawabku sekenanya karna tak mau membuatnya tambah sedih.

“Bang…” wina sudah tak sanggup meneruskan kata-katanya. Dia memeluk cocing dengan erat. Air matanya tak tertahankan lagi. Entah kapan mereka bisa bertemu kembali. Tak ada kata putus memang, tapi jarak yang begitu jauh menjadi tembok yang sangat kuat dan sulit untuk mereka robohkan. Belum lagi restu orang tua keduanya yang hingga mereka berpisah pun tak didapat karna mereka “backstreet”.

Dengan penuh kelembutan cocing membelai kepala wina dan mengecupnya dengan perlahan.

“Baik-baik ya…” kata-kata terakhir cocing membuat hati wina teriris-iris. Tak akan ada lagi perhatian dan pelukan hangat dari pria yang sangat dia sayangi ini.

Kulangkahkan kaki menuju terminal setelah wina tak dapat kulihat lagi. Begitupun cocing, walau sesekali dia menengok kebelakang dengan harapan dapat melihat wina kembali.

Setelah 30 menit akhirnya bis jurusan Airport-Bogor meluncur dari bandara. Kupilih tempat duduk dekat jendela. Kupasang earphone di telingaku, lalu kuputar lagu Yovie & Nuno yang akan selalu mengingatkanku pada mereka.

Mengapa kita bertemu

Bila akhirnya dipisahkan

Mengapa kita berjumpa

Tapi akhirnya dijauhkan

Kau bilang hatimu aku

Nyatanya bukan untuk aku

Bintang di langit nan indah

Dimanakah cinta yang dulu

Masihkah aku disana

Di relung hati dan mimpimu

Andaikan engkau disini

Andai kau tetap denganku

Aku hancur…kuterluka…

Namun engkaulah nafasku

Kau cintaku…

Meski aku bukan dibenakmu lagi

Dan kuberuntung sempat memilikimu….


Note : Jika ada kemiripan nama tokoh atau cerita mohon dimaafkan ya. Hehehe…

2 responses

  1. triess

    ehm…ehm…? kok kayaknya tahu ya?
    he he he….
    ada aja ya bu inspirasinya??
    smangadh!!

    November 27, 2008 at 8:24 am

  2. ingesh

    sialan ente sen,kisah ane dikonsumsi publik lagi…
    bayar lo,,,,hehehe

    December 15, 2008 at 7:19 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s